Jumlah tersebut memang meningkat signifikan dibanding tahun sebelumnya yang berada pada kisaran Rp300 miliar.
Agustina mengatakan, keputusan untuk menaikkan anggaran ini berdasar pada kebutuhan penanganan banjir yang dinilai semakin mendesak.
“Memang kalau dibanding tahun lalu anggaran tersebut jauh lebih besar. Banjir ini dalam kategori kami, termasuk masalah lingkungan yang harus diselesaikan. Nah, sehingga ini menjadi fokus harus banyak uang yang ada di situ,” terangnya.
Ia menyebutkan, dampak banjir terhadap aktivitas warga menjadi salah satu pertimbangan utama. Apalagi banjir ini berdampak serius pada kegiatan ekonomi, lalu lintas hingga aktivitas pendidikan. Hal ini yang membuat pemerintah memfokuskan anggaran pada sektor ini.
“Banjir itu membuat kerugian ekonomi cukup parah. Kayaknya ini kalau banjir itu berarti warung-warung tutup. Orang mau belanja tidak bisa, orang mau sekolah saja macet. Maka ini prioritas utama,” kata dia.
Pemkot Semarang sendiri, lanjutnya, melakukan penghematan di beberapa pos belanja untuk mengimbangi peningkatan anggaran lingkungan, seperti pemotongan belanja makan-minum, efisiensi listrik dan Wi-Fi, serta pengurangan penggunaan ruang kerja.
Saat ini Pemkot sedang melakukan simulasi aliran gorong-gorong menggunakan alat khusus untuk mendeteksi titik kemacetan sebelum memasuki puncak musim hujan yang diperkirakan terjadi pada Januari.
“Menurut BMKG, kita akan dapat curah hujan tinggi itu bulan Januari. Nah, sebelum kita mendapatkan itu lebih baik kan kita melakukan sebagaimana koreksi,” jelasnya.


















