Harapan serupa juga disampaikan Ketua Gabungan kelompok Tani Karya Makmur Desa Pasir Sukron berharap adanya kerja sama dengan IPB dapat menjadi solusi untuk meningkatkan kembali produktivitas bawang merah yang dalam beberapa tahun terakhir terus mengalami penurunan.
Menurut dia, hasil panen petani saat ini jauh berbeda dibandingkan beberapa tahun lalu. Jika sebelumnya produktivitas dapat mencapai rasio 1 banding 12, kini hasil panen hanya berkisar pada rasio 1 banding 7.
“Kami berharap dengan adanya kerja sama bersama IPB, hasil panen bisa kembali seperti dulu, minimal kembali ke rasio 1 banding 12,” ujarnya.
Ia menilai penurunan produktivitas diduga disebabkan oleh akumulasi residu bahan kimia yang telah lama digunakan di lahan pertanian serta adanya serangan penyakit tanaman yang dalam dua tahun terakhir menyebabkan kerugian besar.
“Fenomena dua tahun terakhir hampir satu desa terkena serangan penyakit ‘janda pirang’. Dua tahun lalu kerugiannya sangat besar, sampai-sampai modal tidak kembali sama sekali,” ungkapnya.
Kampung Inovasi IPB
Sementara itu, Dekan Fakultas Pertanian IPB Prof. Suryo Wiyono mengungkapkan penurunan produktivitas bawang merah yang terjadi di Desa Pasir disebabkan oleh sejumlah faktor yang saling berkaitan.
Melalui program Kampung Inovasi, IPB menghadirkan pendekatan terpadu untuk mengatasi persoalan tersebut.
Pada tahap awal penerapan teknologi, IPB memfokuskan upaya untuk mengatasi penyakit “janda pirang” yang selama tiga tahun terakhir menjadi penyebab utama penurunan produksi bawang merah di wilayah tersebut.

















