Ia menegaskan bahwa Simpang Lima merupakan etalase utama Kota Semarang. “Jangan sampai material proyek yang terhampar acak memberi kesan kotor dan mencoreng citra daerah di mata ribuan kafilah serta tamu undangan dari berbagai daerah,” lanjutnya.
Mengingat ajang skala nasional ini akan menyedot massa dalam jumlah besar, area galian drainase dan pengerjaan taman yang terbuka menjadi perhatian serius.
Ia menekankan, Pemkot Semarang wajib memasang barikade pengaman yang kokoh, lampu penerangan tambahan, serta rambu peringatan yang jelas di titik-titik rawan agar galian konstruksi tidak memicu kecelakaan atau mengancam keselamatan pengunjung.
“Keselamatan bagi warga dan peserta MTQ yang akan datang ke Simpang Lima harus diperhatikan. Pemkot harus fokus ke situ, misalnya ada barikade khusus disekitar lokasi proyek atau penerangan tambahan,” terangnya.
Dini meminta Pemkot Semarang segera berkoordinasi dengan BMKG untuk memantau prakiraan cuaca mendekati tanggal 12 September.
Langkah antisipasi limpasan air harus disiapkan secara matang, mengingat proyek drainase di lokasi belum rampung 100 persen.
“Jalur pembuangan air darurat harus dipastikan berfungsi agar genangan tidak mengganggu jalannya acara utama jika hujan turun,” ujarnya.
Lebih lanjut, Dini meminta Pemkot Semarang memberikan perhatian khusus pada keberadaan para pedagang kaki lima (PKL) yang terdampak penataan area.
Moment event besar seperti MTQ Nasional merupakan saat yang paling ditunggu pedagang untuk meraup rezeki. Oleh karena itu, skema relokasi sementara harus dibuat layak, tertata, mudah diakses pembeli, dan aman, sehingga aktivitas ekonomi kerakyatan tetap berjalan serasi dengan agenda kota.


















