Berti menegaskan, dalam penyaluran makanan MBG harian tersebut, pihak sekolah telah mematuhi seluruh Standar Operasional Prosedur (SOP) penerimaan makanan.
“Sekolah melaksanakan sesuai SOP. Saat ompreng datang, makanan dicicipi terlebih dahulu. Kalau tidak ada yang aneh, baru dibagikan. Saya sendiri juga ikut makan dan tidak timbul efek, mungkin karena ketahanan tubuh setiap orang berbeda-beda,” jelasnya.
Saat ini, pihak sekolah memilih menghentikan sementara program MBG dari penyedia SPPG Karangturi sambil menunggu hasil evaluasi resmi dan pengujian sampel laboratorium dari BGN serta Dinkes Kota Semarang.
Sekolah juga berencana menggelar koordinasi bersama komite dan orang tua siswa untuk menentukan langkah kelanjutan program ke depan.


















