MATASEMARANG.COM – Tekanan inflasi kembali membayangi Jawa Tengah pada periode Mei 2026. Sempat menikmati deflasi tipis sebesar 0,03 persen pada bulan sebelumnya, indeks harga konsumen di provinsi ini bergerak naik dengan mencatatkan inflasi bulanan sebesar 0,23 persen (month-to-month/mtm).
Meski mengalami kenaikan, performa pengendalian pasar di Jawa Tengah terbilang masih cukup solid lantaran posisinya berada di bawah rata-rata angka inflasi nasional yang menyentuh 0,28 persen (mtm).
Pelaksana Harian (Plh) Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah Anggis Rakhmi menjelaskan bahwa realisasi angka tersebut menegaskan bahwa inflasi wilayahnya masih terjaga stabil di dalam koridor target tahunan pemerintah, yakni sebesar 2,5±1 persen.
Efek Ganda Cuaca Ekstrem dan Demam Teknologi AI
Merujuk pada data Bank Indonesia, lonjakan harga pada Mei 2026 utamanya disumbang oleh Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau dengan andil inflasi sebesar 0,07 persen (mtm).
Tiga komoditas hortikultura, yakni cabai merah, bawang merah, dan cabai rawit menjadi pemicu utama akibat menyusutnya volume panen di tingkat produsen.
“Penurunan produktivitas pertanian dipengaruhi oleh kombinasi cuaca ekstrem, serangan hama tanaman, serta kekeringan di beberapa wilayah lumbung pangan. Contohnya sentra cabai di Temanggung, serta basis bawang merah di Pati dan Demak,” papar Anggis dalam keterangan resminya.
Faktor musiman seperti merangkaknya permintaan menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Iduladha serta maraknya musim hajatan masyarakat turut mengerek harga komoditas tersebut. Selain itu, harga minyak goreng ikut mendaki akibat keterbatasan stok dan naiknya biaya produksi plastik kemasan.


















