Menariknya, inflasi bulan ini tidak hanya dipicu oleh sektor pangan. Kelompok Informasi, Komunikasi, dan Jasa Keuangan ikut menyumbang andil 0,06 persen (mtm) akibat melesatnya harga perangkat telepon seluler (HP).
“Kenaikan harga gawai ini terjadi karena kelangkaan pasokan komponen elektronik global seperti chipset dan memori. Kelangkaan ini merupakan imbas dari masifnya pengalihan suplai komponen untuk memenuhi kebutuhan industri kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di tingkat dunia,” tambah Anggis.
Faktor pemicu lain juga datang dari penyesuaian harga LPG non-subsidi pada April lalu mengikuti pergerakan harga pasar internasional, yang dampaknya masih terasa di level konsumen hingga Mei 2026.
Harga Emas dan Ayam Ras Jadi Juru Selamat
Beruntung, potensi inflasi yang lebih tinggi berhasil diredam oleh deflasi pada Kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya sebesar -0,05 persen (mtm). Koreksi ini dipimpin oleh komoditas emas perhiasan.
Harga emas di pasar domestik mendingin mengikuti tren penurunan harga emas global, sebagai imbas dari kebijakan Bank Sentral AS (The Fed) yang mempertahankan suku bunga tinggi, sehingga investor beralih ke portofolio berbasis bunga dan melakukan aksi ambil untung (profit taking).
Di sektor pangan, harga daging ayam ras dan telur ayam ras juga ikut turun berkat melimpahnya pasokan di tingkat peternak, sehingga mampu menahan laju inflasi lebih jauh.
Peta Inflasi Daerah: Surakarta Tertinggi, Cilacap Memimpin Tahunan
Secara spasial, seluruh kota Indeks Harga Konsumen (IHK) di Jawa Tengah kompak mengalami inflasi. Untuk skala bulanan (mtm), Kota Surakarta, Kudus, dan Cilacap menjadi wilayah dengan tingkat inflasi tertinggi:


















