MATASEMARANG.COM – Auditorium Agnes Widanti Gedung Albertus Unika Soegijapranata menjadi saksi terselenggaranya kegiatan tema “Dian Yang Tak Pernah Padam” untuk mengenang jejak Prof. Agnes Widanti dalam perjuangan melawan kekerasan terhadap perempuan.
Acara yang digelar pada Sabtu, 22 November 2025 ini bertepatan dengan momentum 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan Internasional yang dihadiri sekitar 200 peserta dari berbagai kalangan masyarakat Kota Semarang.
Suasana semakin semarak dengan penampilan tari tradisional dari kelompok seni Kembangtaru, yang menghadirkan nuansa budaya sekaligus memperkuat pesan kebersamaan dalam melawan kekerasan.
Menurut anggota Komisi E DPRD Jateng Krisseptiana semangat “Dian Yang Tak Pernah Padam” menjadi simbol bahwa perjuangan melawan kekerasan terhadap perempuan dan anak harus terus menyala.
“Harus selalu semangat tanpa henti demi terciptanya masyarakat yang aman dan berkeadilan,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, perempuan yang akrab disapa Tia Hendi membawakan sub tema penting mengenai penghapusan kekerasan melalui regulasi daerah.
Ia menyoroti Perda No 2 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan Perempuan serta Perda No 4 Tahun 2022 tentang Penyelenggaraan Perlindungan Anak, sebagai payung hukum yang harus terus disosialisasikan agar masyarakat semakin terlindungi.
Tak hanya menyampaikan materi, Tia Hendi juga mendengarkan aspirasi warga.
Salah satunya datang dari Harto, warga Kemijen yang berharap adanya sosialisasi khusus mengenai Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dengan sasaran kaum bapak-bapak.


















