Pesan Ketua TP PKK Semarang untuk Orang Tua yang Memondokkan Anaknya

Ketua TP PKK Kota Semarang (matasemarang.com/Lia dina)
Ketua TP PKK Kota Semarang (matasemarang.com/Lia dina)

MATASEMARANG.COM – Kasus kekerasan seksual di lingkungan pondok pesantren di berbagai wilayah di Jawa Tengah menjadi perhatian serius.

Bahkan belum lama ini, pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Al Jaelani, Tinjomoyo, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang Achmad Fauzi alias Abah Khan (39), diduga melakukan kekerasan seksual terhadap seorang santriwati yang masih di bawah umur.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Tim Penggerak (TP) PKK Kota Semarang Listyati Purnama Rusdiana mengaku prihatin dengan maraknya kasus kekerasan seksual yang terjadi di berbagai daerah, khususnya di Kota Semarang.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA  Polres Semarang Tanam Bibit Jagung Bhayangkara di Lahan Milik Ponpes

Menurutnya, kasus tersebut menjadi pembelajaran bagi para orang tua yang menitipkan anaknya untuk menempuh pendidikan di pondok pesantren maupun sekolah.

Dalam hal ini ia menekankan pentingnya peran orang tua untuk tetap mengawasi, mendampingi, dan menjaga komunikasi dengan anak.

Listyati mengingatkan agar orang tua tidak sepenuhnya melepas pengawasan hanya karena anak sudah berada di lingkungan pendidikan.

“Jangan dilepas begitu saja. Saya tadi mengatakan bagaimana jam intan itu harus dilaksanakan. Walaupun anak berada di sekolah atau pondok pesantren, tetap harus ada waktu komunikasi. Sehingga ketika ada hal-hal yang berbeda atau masalah, anak bisa bercerita kepada orang tuanya karena sudah terbiasa dekat dan memiliki ikatan kasih sayang,” kata Listyati, Sabtu, 27 Juni 2026.

BACA JUGA  Alasan Pemkot Semarang Usulkan KH Sholeh Darat sebagai Pahlawan Nasional

Ia mengatakan bahwa, minimnya komunikasi antara orang tua dan anak dapat membuat anak sulit menyampaikan masalah yang dihadapi. Kondisi tersebut dikhawatirkan membuat anak lebih mudah dipengaruhi oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.

Pos terkait