Dia menyebut, guru PAUD memiliki peran penting dalam menanamkan karakter sejak dini. Sebab, selama ini pemahaman tentang pendidikan karakter masih banyak berhenti pada tataran teori.
Ia berharap melalui pembinaan tersebut, nilai-nilai karakter Jawani dapat diterapkan secara menyeluruh dan tidak hanya mengambil sebagian aspek saja. Dengan begitu, pendidikan karakter yang diterima anak-anak benar-benar mampu membentuk kebiasaan positif dalam kehidupan sehari-hari.
“Kalau ada handbook, karakternya sudah jelas, misalnya ada 18 karakter yang harus dilaksanakan semua. Nanti juga ada ceklis agar guru bisa melihat mana yang sudah diajarkan, mana yang perlu ditingkatkan lagi,” tuturnya.
Menurut Listyati, setiap karakter memiliki peran penting dan tidak boleh terlewat. Salah satunya nilai kejujuran yang dinilai sangat berpengaruh terhadap pembentukan kebiasaan dan perilaku anak.
“Jangan sampai ada karakter yang terlepas. Misalnya kejujuran, itu sangat penting. Karena guru juga memiliki banyak kegiatan, sehingga perlu ada pedoman agar semua karakter tetap diperhatikan dan diterapkan,” tuturnya.
Listyati mengatakan, penerapan nilai-nilai Jawani bukan merupakan kurikulum baru, melainkan bentuk penjabaran dari kurikulum yang sudah ada, khususnya dalam pendidikan karakter di tingkat taman kanak-kanak (TK).
Menurutnya, selama ini pendidikan karakter sering kali masih berkutat pada materi parenting yang disampaikan berulang. Karena itu, diperlukan pedoman yang lebih konkret dan aplikatif agar nilai karakter dapat benar-benar diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.


















