Selain kegiatan ilmiah, peserta juga akan berdiskusi dengan berbagai pemangku kepentingan seperti pengelola Taman Nasional Karimunjawa, NGO konservasi seperti Elasmobranch Project Indonesia (EPI), dan masyarakat lokal untuk memahami aspek sosial, ekonomi, serta tantangan konservasi di wilayah tersebut.
Program ini menghadirkan 38 peserta dan fasilitator, serta 11 narasumber dari institusi ternama seperti National University of Singapore (NUS), Universiti Malaysia Terengganu, King Abdullah University of Science and Technology (KAUST) – Saudi Arabia, Universitas Muhammadiyah Semarang (UNIMUS), Universitas Mataram, dan Yayasan MERO Foundation, Bali.
Berbeda dari kelas konvensional, seluruh materi disampaikan secara langsung di lapangan dalam bentuk praktik dan diskusi kontekstual, sehingga peserta memperoleh pengalaman belajar yang menyeluruh dan berbasis pada kondisi nyata.
Kegiatan ini diharapkan tidak hanya menjadi sarana pembelajaran, tetapi juga membuka peluang kerja sama lebih luas antara institusi, narasumber, dan peserta.
Peserta juga akan mendapatkan pengalaman bekerja dalam tim lintas budaya yang memperkaya perspektif serta keterampilan kolaboratif.
Program ini menjadi bagian dari strategi internasionalisasi Universitas Diponegoro, sekaligus mendukung pencapaian target World Class University (WCU) melalui penguatan kolaborasi akademik global, inovasi riset, dan pengembangan kapasitas mahasiswa serta dosen di tingkat internasional.***


















