“Angkatan ke-27 ini menjadi penanda kuat. PWI dan FH Unissula satu frekuensi yaitu saat lulus dan bekerja nanti, peserta menguasai hukum pers, kode etik, menulis artikel, hingga konvergensi media yang kini rawan hoaks dan doxing. Kemampuan menulis pendapat hukum (legal opinion) akan menempa mereka menjadi lawyer yang tangguh dan disegani di dunia kerja,” tegas Iwan, panggilan akrabnya.
Dalam sambutannya, Wakil Dekan I FH Unissula, Dr Ida Musofiana, menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih yang mendalam atas hubungan erat yang telah terjalin dengan PWI Jateng sejak tahun 2016. Menurutnya, menembus Angkatan ke-27 dalam kurun waktu 10 tahun bukanlah perkara mudah.
“Angka 27 merupakan simbol kedewasaan, di mana program ini sudah teruji dan terlatih. Fondasinya sudah kokoh dan kuat. Dirintis sejak 2016, satu dekade ini bukan angka yang sedikit untuk sebuah konsistensi,” ujar Ida.
Ida menambahkan, sebagai bagian dari rumpun ilmu sosial humaniora, mahasiswa hukum dituntut peka terhadap dinamika peradaban yang kini bergerak cepat dari era Industri 4.0 menuju era Society 5.0. Di era digital ini, lompatan teknologi informasi tidak jarang memicu gesekan sosial hingga badai disinformasi (hoaks) di tengah masyarakat.
Lebih lanjut, pihak fakultas menekankan bahwa kemampuan menulis yang beretika adalah senjata mutlak bagi para lulusan hukum di masa depan, baik mereka yang akan berkarier sebagai akademisi, praktisi hukum (hakim, jaksa, pengacara), demokrat hukum, maupun penggerak masyarakat.


















