Selain itu, ia juga mendorong agar solusi berkelanjutan, seperti pengembangan tanggul laut dan kolam retensi, semakin ditingkatkan.
“Namun, bukan hanya proyek fisik yang harus menjadi perhatian kita, melainkan juga perubahan pola pikir masyarakat dan pemerintah yang lebih siap menghadapi perubahan iklim,” tambahnya.
Suharsono juga menegaskan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam perencanaan dan pengambilan keputusan terkait infrastruktur.
“Partisipasi warga sangat krusial. Pengalaman mereka yang tinggal di daerah rawan banjir bisa menjadi bahan pertimbangan penting dalam perencanaan anggaran dan kebijakan,” ujar Suharsono.
DPRD Kota Semarang juga mengajak pemerintah untuk meningkatkan transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan anggaran yang dialokasikan untuk penanggulangan banjir.
“Setiap anggaran yang digunakan harus dapat dipertanggungjawabkan dengan jelas dan benar-benar fokus pada penguatan ketahanan infrastruktur,” kata Suharsono.
Suharsono kembali menegaskan bahwa langkah-langkah yang diambil oleh Pemerintah Kota Semarang harus didasari pada data yang akurat dan perencanaan yang matang.
“Semarang harus belajar dari pengalaman yang terjadi di Sumatra. Kami harus merancang solusi jangka panjang yang dapat mengurangi dampak bencana di masa depan dan menjaga agar kota ini tetap layak huni bagi warganya,” terangnya.
Dengan langkah-langkah preventif yang tepat dan dukungan dari semua pihak, Kota Semarang diharapkan dapat menjadi contoh kota yang tangguh dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan bencana alam.


















