Mantan Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi (Hendi) yang turut hadir membagikan pandangannya, menekankan bahwa tantangan pemuda saat ini bukan lagi sekadar menguasai teknologi, melainkan bagaimana menjaga kepekaan nurani di tengah era digital.
“Servant leadership atau kepemimpinan yang melayani adalah jawaban atas kebutuhan masyarakat hari ini. Pemimpin muda dituntut memiliki empati tinggi, integritas, serta kemampuan mendengar sebelum mengambil Keputusan,” kata Hendi.
Pandangan senada disampaikan tokoh pemuda setempat, M. Nur Hamid Arif. Ia menilai kepemimpinan anak muda harus membumi dan langsung menyentuh problem nyata di lingkungan sekitar, mulai dari persoalan sosial hingga pemberdayaan ekonomi warga.
Melalui ruang dialog publik dan pengawasan Perda semacam ini, diharapkan lahir gagasan-gagasan segar dari bawah. Sinergi antara wakil rakyat, tokoh masyarakat, dan organisasi kepemudaan menjadi kunci agar program pengembangan kepemudaan benar-benar tepat sasaran.
Bagi Krisseptiana, melatih pemuda untuk memimpin dengan cara melayani adalah investasi jangka panjang.
Sebab dari ruang-ruang diskusi kecil di pemukiman warga inilah, bakal lahir calon-calon pemimpin masa depan Semarang yang peka, inklusif, dan siap membela kepentingan rakyat.


















