Tidak hanya bermain di kain, Vicha menggabungkan resin, patung, kayu, hingga tali menjadi sebuah sajian seni instalasi. Penggunaan kain yang cenderung rapuh dan mudah kotor pun ia terobos sebagai bagian dari dinamika seni kontemporer.
“Kalau ngomongin seni kontemporer, apapun dan siapapun bisa menjadi seniman. Tinggal bagaimana mengemas karya itu menjadi sesuatu yang menarik dan relate dengan kehidupan,” tegas alumni SMA Negeri 1 Semarang ini.
Bagi Vicha, karakter kain yang ditarik menyerupai gubahan sapuan kuas. Lewat medium tersebut, ia menjual gagasan dan pengalaman estetik. Fleksibilitas ini membuat karyanya mampu merambah berbagai ranah, mulai dari industri fashion hingga seni mural.
Saling Merespon dan Menghargai Ruang Sinergi
Dalam duo exhibition ini, Vicha menampilkan lima karya dengan rentang harga Rp8 juta hingga Rp15 juta. Menariknya, penentuan karya tersebut merupakan bentuk respon dan kompromi artistik terhadap karya rekan pamerannya, Ummi Damas.
“Saya di-challenge untuk tidak egois atau sekadar idealis. Saya menunggu karya Mbak Ummi terlebih dahulu, baru kemudian meresponnya. Jadi ada sinergi di dalam ruang pameran,” jelasnya.
Ia sengaja tidak membebani karyanya dengan muatan khusus, melainkan membiarkan penonton menyusun potongan-potongan cerita bak puzzle sesuai interpretasi masing-masing.
Semarang sebagai ‘Rumah’ Kedua
Keterikatan Vicha dengan Semarang sejatinya cukup mendalam. Selain pernah menggarap karya bertema “Manusia dan Ikan” di tempat yang sama, sebuah simbol kegigihan yang diilhami filosofi ikan saat Semarang dilanda banjir—kota ini menyimpan kenangan masa remajanya.


















