Arwita menambahkan, potensi IKM Kota Semarang sangat masif dan membutuhkan wadah manajemen terpadu. Dari total lebih dari 30.000 UMKM di Semarang, sekitar 1.600 di antaranya merupakan unit IKM yang tersebar di 24 sentra industri tematik.
Sentra-sentra tersebut meliputi kuliner khas (sentra bandeng, lumpia, jajan pasar), kriya (batik, craft), hingga manufaktur (Sentra Logam). Melalui integrasi digital Smart Indigo, seluruh sentra ini secara bertahap akan terhubung dalam satu ekosistem informasi yang memudahkan pemetaan bantuan, pengurusan izin, hingga akses pasar.
Pertumbuhan IKM Semarang di sektor pengolahan menunjukkan perkembangan pesat. Berdasarkan data kemitraan dengan BPJPH dan dinas terkait, telah ada lebih dari 256.000 produk IKM di Semarang yang berhasil memperoleh sertifikasi legalitas, baik berupa Nomor Induk Berusaha (NIB), PIRT, maupun Sertifikasi Halal.
Arwita optimistis platform Smart Indigo akan terus membuka pintu kolaborasi baru di masa depan.
“Ke depan kita tidak akan berhenti di sini. Kita akan gelar temu bisnis susulan secara berkelanjutan dengan sektor IKM lainnya, seperti IKM logam dan batik. Target kita berikutnya adalah menembus jaringan hotel-hotel besar agar produk IKM Semarang bisa menjadi sajian utama bagi para wisatawan,” pungkasnya.

















