“Kalau SD kan gurunya guru kelas, bukan guru mata pelajaran. Jadi, selama dalam satu SD itu guru kelas satunya cuma satu dan memang hanya menerima satu kelas, dia akan tetap mengajar walaupun jumlah muridnya tidak sampai 28 orang,” imbuhnya.
Sementara itu, perkembangan juga terlihat di SD Wonodri yang berlokasi di Kecamatan Semarang Selatan. Sebelumnya, sekolah ini dikabarkan hanya mendapatkan 8 siswa.
Dari daya tampung 28 kursi, awalnya baru ada 5 siswa yang mendaftar sehingga menyisakan kuota 23 kursi. Pada gelombang lanjutan, terdapat tambahan 3 pendaftar baru, sehingga saat ini sisa kuota di SD Wonodri menjadi 18 kursi kosong.
Meski ada beberapa sekolah yang mendapatkan jumlah murid sangat sedikit, Ia mengatakan bahwa Dinas Pendidikan tidak akan melakukan merger (penggabungan) sekolah untuk tahun ajaran baru ini.
“Untuk tahun ajaran ini tidak ada merger. Kami masih memperhitungkan dan memperhatikan persebaran sekolahnya.
Kalau di sekitar situ hanya ada satu SD, walaupun muridnya sedikit, kami tetap berhitung dan sepertinya tidak akan di-merger.
Kami khawatir jika di-merger, warga sekitar yang membutuhkan sekolah justru akan kejauhan, meskipun jumlah siswanya tidak terlalu banyak,” jelasnya.
Pihaknya juga memperkirakan tidak akan ada lagi siswa pindahan yang masuk untuk mengisi kursi kosong tersebut karena proses pendaftaran sudah dibuka dalam dua kali kesempatan. “Banyak calon siswa yang tidak mengambil kesempatan di pilihan kedua karena faktor jarak sekolah yang dinilai terlalu jauh dari rumah mereka,” tuturnya.


















