MATASEMARANG.COM – Komisi D DPRD Provinsi Jawa Tengah menyoroti tingginya angka kecelakaan di ruas Jalan Diponegoro, khususnya kawasan Jembatan Pokoh yang berada di atas Sungai Bengawan Solo.
Dewan meminta pemerintah segera menambah Alat Penunjuk Jalan (APJ), Penerangan Jalan Umum (PJU), serta pengaman jembatan untuk menekan risiko kecelakaan di jalur penghubung Wonogiri–Ponorogo.
Wakil Ketua Komisi D DPRD Jateng Joko Purnomo menegaskan pentingnya APJ dan PJU untuk memberikan informasi kepada pengendara mengenai kondisi tikungan, arus lalu lintas, maupun titik rawan kecelakaan.
“Belum lama ini ada kecelakaan pengendara sepeda motor. Saya minta ada pengaman di Jembatan Pokoh,” ujarnya.
Ketua Komisi D Nur Saadah menambahkan rehabilitasi jalan tidak hanya soal perbaikan permukaan, tetapi juga harus berdampak pada peningkatan keselamatan.
“Dengan memperbaiki masalah ini, kita dapat menciptakan kondisi berkendara yang lebih aman,” katanya.
Kabid Pelaksana Jalan Wilayah Timur Dinas PUPR Jateng, Agus Apriyanto, menjelaskan ruas Jalan Diponegoro memiliki panjang rata-rata 3,75 km dengan SK 2,18 km.
Jalan arteri tipe 4/2 UD ini menjadi akses vital Wonogiri–Ponorogo, namun juga dikenal sebagai titik rawan kecelakaan.
Data menunjukkan, periode 2017–2021 terjadi 15 kecelakaan dengan empat korban meninggal dan 14 luka ringan.
Tren meningkat pada 2024 dengan 10 kasus, lalu naik menjadi 15 kasus pada 2025.

















