MATASEMARANG.COM – DPRD Kota Semarang mendorong masyarakat untuk ikut mengelola sampah secara mandiri di lingkungan masing-masing. Hal ini seiring dengan terus meningkatnya volume sampah, serta untuk menjaga usia pakai armada pengangkut sampah milik pemerintah.
Hal ini disampaikan anggota Komisi C DPRD Kota Semarang Dini Inayati dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) pengelolaan sampah yang digelar di Aula Kecamatan Candisari Semarang.
Dini menyoroti terkait beban yang ditanggung oleh Pemerintah Kota Semarang soal volume sampah harian yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatibarang yang jumlahnya sudah sangat besar.
Hal ini tentu berdampak pada antrean panjang armada truk sampah yang bisa memakan waktu hingga dua jam hanya untuk bongkar muat, serta tingginya biaya operasional pengangkutan.
“Persoalan sampah di Semarang tidak cukup diselesaikan hanya dengan menambah armada atau memperluas lahan TPA. Kita harus memutus mata rantai masalah ini dari sumbernya, yaitu rumah tangga,” kata Dini Jumat 12 Desember 2025.
Dini menjelaskan secara spesifik mengenai bahaya sampah organik yang tercampur. Sampah sisa makanan yang membusuk di dalam kontainer akan menghasilkan air lindi. Cairan ini tidak hanya berbau menyengat, tetapi juga bersifat korosif yang mempercepat kerusakan kontainer dan truk pengangkut.
“Air lindi itu yang membuat kontainer cepat rusak dan keropos. Jika sampah organik dipisah sejak dari rumah dan tidak masuk ke kontainer TPS, usia pakai armada milik pemerintah bisa jauh lebih panjang. Ini adalah bentuk efisiensi anggaran yang nyata,” jelasnya.


















