Krisseptiana Ajak Keluarga dan Sekolah Bersinergi Jaga Kesehatan Mental Remaja

Anggota Komisi E DPRD Jateng Krisseptiana
Anggota Komisi E DPRD Jateng Krisseptiana

MATASEMARANG.COM – Kesehatan mental remaja kini menjadi perhatian serius dalam pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) di Jawa Tengah.

Menanggapi dinamika tersebut, Anggota Komisi E DPRD Provinsi Jawa Tengah, Krisseptiana, menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk menciptakan lingkungan yang suportif bagi generasi muda.

Hal tersebut disampaikannya dalam kegiatan Peningkatan Kualitas Pengawasan Pelaksanaan Perda bertajuk “Ekosistem Dukungan: Peran Keluarga, Sekolah, dan Komunitas dalam Menjaga Kesehatan Mental Remaja” yang berlangsung di Rumah PoHan, Semarang Tengah, Jumat 8 Mei 2026.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA  Krisseptiana: Perda Disabilitas Harus Hadir Nyata di Kehidupan Sehari-Hari

Transisi Remaja dan Tantangan Digital

Menurut Krisseptiana, remaja saat ini berada dalam masa transisi yang rentan. Selain perubahan fisik dan emosional, tekanan akademik serta paparan media digital yang intens menjadi pemicu utama stres dan kecemasan.

“Kesehatan mental remaja bukan hanya tanggung jawab individu atau fasilitas kesehatan semata. Ini adalah tanggung jawab kolektif yang dimulai dari unit terkecil, yaitu keluarga,” ujar Krisseptiana di hadapan para peserta.

Tiga Pilar Pendukung: Keluarga, Sekolah, dan Komunitas

Dalam diskusi tersebut, dirumuskan tiga pilar utama yang harus bersinergi dalam menjaga stabilitas psikologis remaja:

BACA JUGA  Nguri-uri Budaya, Sumanto Minta Ada Perdes “Nanggap” Kesenian Tradisional
  1. Keluarga sebagai Fondasi: Orang tua diharapkan memiliki pola asuh suportif dan komunikasi terbuka untuk memberikan rasa aman bagi anak.
  2. Sekolah sebagai Ruang Aman: Guru dan layanan bimbingan konseling (BK) harus optimal dalam mendeteksi dini kondisi emosional siswa, bukan sekadar tempat transfer ilmu.
  3. Komunitas sebagai Ruang Aktualisasi: Lingkungan sosial yang positif membantu remaja memperluas jejaring dan mendapatkan dukungan emosional tambahan.

Menghapus Stigma Negatif

Krisseptiana juga menyoroti masih kuatnya stigma terhadap isu kesehatan mental di tengah masyarakat. Hal inilah yang seringkali membuat remaja atau orang tua enggan mencari bantuan profesional.

BACA JUGA  Dewan Soroti Tanah Gerak di Semarang, Minta Ada Mitigasi Berbasis Pemetaan Risiko

“Kita perlu menghapus stigma bahwa masalah mental adalah aib. Melalui edukasi dan komunikasi publik yang efektif, kita ingin mewujudkan masyarakat yang sadar kesehatan mental,” tambahnya.

Pos terkait