Sebagai kawasan yang dikenal sebagai sentra komoditas hortikultura utama Jawa Tengah, terganggunya pasokan air dari lereng Gunung Ungaran dinilai bakal melumpuhkan perekonomian dan tumpuan hidup para petani lokal di Sumowono dan Bandungan.
Selain masalah kelestarian situs peninggalan Mataram Kuno dan krisis air, pihak komunitas menggarisbawahi ancaman kegagalan struktur pengeboran pada gunung berapi aktif yang tengah dalam fase istirahat (dormant).
Kegagalan teknis pada eksplorasi panas bumi dikhawatirkan dapat memicu semburan material berbahaya dari perut bumi yang berujung pada bencana kemanusiaan.
“Kalau terjadi kegagalan pengeboran di gunung berapi aktif yang sedang tidur, ini bisa menimbulkan bencana yang luar biasa seperti musibah Lumpur Lapindo. Yang jadi korban pasti masyarakat luas di sekitar Gunung Ungaran meliputi Kabupaten Semarang, Kendal, dan Kota Semarang,” tegas Suwarsono.
Mengingat besarnya pertaruhan dampak ekologis, sosial, hingga sejarah, Komunitas Kandang Gunung Semarang mendesak pemerintah pusat maupun daerah untuk segera membatalkan seluruh izin eksplorasi geothermal di bentang alam Gunung Ungaran dan Gunung Telomoyo.


















