- Guru Besar Undip Prof. Sriyana menekankan pentingnya penerapan Manajemen Konstruksi dalam rencana eksplorasi geothermal Gunung Ungaran
- Proyek wajib memenuhi tiga indikator studi kelayakan, yakni teknis, ekonomi, serta lingkungan melalui dokumen Amdal yang transparan
- Keterlibatan masyarakat dinilai krusial untuk mencegah konflik sosial serta menjamin kelestarian sumber air warga
MATASEMARANG.COM – Maraknya dinamika serta kekhawatiran masyarakat terkait rencana eksplorasi energi panas bumi (geothermal) di kawasan Gunung Ungaran dan Gunung Telomoyo masih ramai diperbincangkan.
Guru Besar Departemen Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Diponegoro (Undip), Prof. Sriyana, menegaskan bahwa pengerjaan proyek skala besar wajib tunduk pada kaidah ilmu Construction Management (Manajemen Konstruksi).
Menurut Prof. Sriyana, kendati program Pembangunan Pemerintah berorientasi pada kesejahteraan, pengerjaan infrastruktur ekstraksi energi harus melalui empat tahapan terstruktur.
Tahapan tersebut meliputi Feasibility Study (Studi Kelayakan), Tahap Perencanaan, Tahap Pelaksanaan, hingga Tahap Operasi.
“Dalam ilmu Construction Management, tahap kelayakan hasilnya harus memenuhi tiga indikator utama, yaitu layak teknis, layak ekonomi, dan layak lingkungan. Untuk aspek layak lingkungan, ini mutlak memerlukan dokumen Amdal serta izin lingkungan dari Komisi Amdal,” terangnya, Senin, 7 September 2026.
Prof. Sriyana menggarisbawahi bahwa pada fase pra-konstruksi, pemerintah dan pihak pengembang memegang kewajiban moral serta hukum untuk membuka ruang komunikasi publik secara masif.
Edukasi komprehensif diperlukan agar warga lokal memahami gambaran berimbang, baik mengenai manfaat energi maupun potensi risiko lingkungan yang timbul.
Salah satu aspek vital yang paling dikhawatirkan masyarakat di lereng pegunungan adalah jaminan keberlanjutan sumber daya air hulu.
Pengujian baku mutu air secara berkala menjadi kunci untuk memastikan kuantitas debit serta kualitas kejernihan air bersih warga tidak terganggu.


















